Minggu, 19 Juni 2011

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN ABORTUS INCOMPLETUS DI BANGSAL KENANGA RSUD WATES


KONSEP DASAR


A.    Pengertian
Abortus incomplitus adalah hanya sebagian dari hasil konsepsi keluaran, sisa yang ketinggalan/ plasenta.
Abortus incompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
(Prawirohardjo, 1994, hal : 307)
Abortus incompletus adalah apabila janin dan plasenta tampak dikeluarkan sebagai suatu konsep utuh, sejumlah jaringan plasenta sering sering sering robek lepas dan tetap menempel pada dinding uterus.
(Benzion Taher, M.D. HAL : 62)
Abortus incompletus adalah proses abortus dimana sebagian konsepsi telah keluar melalui jalan lahir.
(Dr. Chrisdiono M. Achadiat, SpOG : 26)

B.     Penyebab
Abortus incompletus terjadi karena :
-          Terjadi pada kehamilan yang lebih besar
-          Umur kehamilan yang lebih muda daripada 8 minggu
-          Ibu hamil yang menderita berbagai penyakit :
ð  Infeksi è virus rubela, herpes simpleks, sitomegali, campak, hepatitis
ð  Penyakit kronis
ð  Penyakit endokrin
ð  Malnutrisi
ð  Pengaruh toksin
ð  Trauma psikis
ð  Akibat laparatomi
ð  Keracunan obat
ð  Penyakit diabetes melitus
ð  Terken polio


C.    Manifestasi Klinik
Biasanya terjadi pada kehamilan yang lebih besar yaitu lebih dari 8 minggu. Setelah terjadi pendarahan dan pembukaan pada serviks, kantong kehamilan menonjol keluar dan His yang terjadi melepaskan konseptual dari tempat implamantasinya dan keluar melalui ostium uteri. Keadaan yang sering terjadi adalah setelah ketuban menonjol lalu pecah dan diikuti keluarnya fetus plasenta sebagian atau seluruhnya tertahan. Inilah yang menyebabkan pendarahan berlangsung terus karena sisa konseptus yang tertahan mencegah uterus berkontraksi dengan baik sehingga masih terdapat pembuluh darah yang belum tertutup.
Jika yang tersisa sangat sedikit akan terjadi pelepasan perlahan-lahan. Sisa yang lebih besar akan menimbulkan perdarahan yang dapat berlangsung berhari-hari malahan bisa berbulan-bulan. Abortus incompletus seperti ini lebih sering terjadi pada kehamilan yang lebih besar walaupun bisa juga terjadi pada umur kehamilan yang lebih muda daripada 8 minggu.
(Dr. TMA Chalik, Sp.OG hal : 21)

D.    Tanda dan Gejala
1.       Data Subyektif
-    Nyeri Abdomen adalah Nyeri suprapubik terjadi akibat kontraksi uterus dalam usaha mengeluarkan isi uterus. Mula-mula nyeri cenderung ringan dan intermiten, tetapi secara bertahap menjadi lebih hebat.
-    Perdarahan pervagina ini merupakan gejala yang paling khas dari abortus incomplitus. Jumlah perdarahan cenderung lebih banyak daripada darah haid biasa : perdarahan mungkin hebat dan bahkan cukup berlebihan untuk menyebabkan syok hipovolemik.
-    Selama jaringan plasenta tetap melekat sebagian pada dinding uterus, maka kontraksi miometrum terganggu, pembuluh darah di dalam segmen telanjang pada tempat plasenta berdarah hebat. Pasien dapat mengeluarkan banyak bekuan darah atau janin yang dapat dikenal atau jaringan plasenta.
-    Gejala haid : Biasanya pasien telah melewatkan dua siklus haid, karena abortus incomplitus cenderung terjadi kira-kira 10 minggu setelah mulainya siklus haid terakhir.
-    Gejala kehamilan : Banyak pasien sadar akan hilangnya gejala kehamilan subjektif. Gejala ini mungkin menandakan kematian janin intrauteri yang mendahului abortus spontan.
2.   Data Objektif
-    Pemeriksaan umum : suhu badan normal, kecuali ada infeksi penyerta nadi, tekanan darah dan pernapasan normal, kecuali abortus terinfeksi atau hipovolemia akibat perdarahan berlebihan.
-    Pemeriksaan abdomen : Abdomen biasanya lunak dan nyeri tekan
-    Pemeriksaan pelvis. Pada pemeriksaan spekulum, sering vagina mengandung banyak bekuan darah dan serviks tampak mendatar dan dilatasi jaringan plasma dapat terlihat di osteum uteri atau vagina.
Pada pemeriksaan vagina, serviks lunak, dilatasi dan mendatar. Jaringan plasenta atau bekuan darah atau keduanya dapat teraba. Uterus membesar dan lunak. Daerah adneksa normal.

E.     Pemeriksaan
1.       Pemeriksaan laboratorium darah : Hb, Leukosit, Trombosit, Hematokrit, dan Golongan darah untuk mengkaji perubahan dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan.
2.       Kimia klinik : Ureum, kreatinin, GDS, kultur urine, darah vaginal dan lokhea.
3.       Pemeriksaan fisik
Auskultasi :
Leopoid I
Leopoid II
Leopoid III
Leopoid IV

Konsep Keperawatan
a.       Pengkajian dasar data pasien
Tinjauan ulang catatan prenatal sampai adanya terjadi abortus incomplitus
b.      Sirkulasi
Kehilangan darah selama terjadi perdarahan karena abortus


c.       Integritas Ego
Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan, marah atau menarik diri klien/ pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. Mungkin mengekpresikan ketidak mampuan untuk menghadapi suasana baru.
d.      Eliminasi
Kateter urinarius mungkin terpasang : urin jernih pusat, bising usus tidak ada
e.       Makanan/ cairan
Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal
f.       Neurosensorik
Kerusakan gerakan pada sensori dibawah tindak anestesi spinal epidural
g.      Nyeri/ kenyamanan
Mungkin mengeluh ketidaknyamanan dari berbagai sumber : misal nyeri penyerta, distensi kandung kemih/ abdomen, efek-efek anestesi : mulut mungkin kering.
h.      Pernapasan
Bunyi paru jelas dan vesikuler
i.        Keamanan
Jalur parenteral bila digunakan resiko terkena infeksi karena pemasangan infus dan nyeri tekan.
j.        Seksualitas
Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus
k.      Pemeriksaan Diagnostik
Jumlah darah lengkap, hemoglobin/ hematokrit (Hb/Ht). Mengkaji perubahan dari kadar efek kehilangan darah pada pembedahan urinalisis, kultur urine, darah vaginalm, dan lokhea : Pemeriksaan tambahan didasarkan pada kebutuhan individual.
(Doengoes, MZ, & Mary P.M., 2001)







Pathway
Kehamilan yang lebih muda/ besar
Penyakit yang diderita ibu (thypoid, kelainan endokrin, trauma dsb)




Abortus incompletus
 



Sisa konseptus yang tertahan





Sisa sedikit
Mencegah uterus berkontraksi
Sisa lebih besar

Terjadi pelepasan perlahan-lahan
Perdarahan yang terus menerus
Perdarahan yang berhari-hari


Dilakukan tindakan curratage
Bedrest


Penurunan aktivitas
Kontinuitas jaringan terputus akibat pembersihan sisa plasenta
Adanya luka

Perawatan luka pasca curratage
Lemah

Intoleransi aktivitas

Resti Infeksi


Nyeri



Kurang pengetahuan pasien tentang perawatan luka curratage















     
(Dr. TMA Cholik, DsOG)

F.     Fokus Intervensi
1.       Nyeri (akut) berhubungan dengan inkontinuitas jaringan, efek-efek anestesis
Kriteria Hasil :
a.      Mengidentifikasi dan menggunakan intervensi untuk membatasi nyeri/ ketidaknyamanan dengan tepat.
b.     Tampak rileks, mampu tidak/ istirahatdengan tepat, nyeri berkurang.
Intervensi
a.       Tentukan karakteristik dan ketidaknyamanan
b.      Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat.
c.       Evaluasi tekanan darah dan nadi, perhatikan perubahan perilaku yaitu kegelisahan karena kehilangan darah berlebihan dan kriteria nyeri.
d.      Ubah posisi klien, kurangi rangsangan yang berbahaya dan berikan gosokan punggung.
e.       Anjurkan penggunaan teknik pernafasan, relaksasi dan distraksi
f.       Lakukan latihan nafas dalam
g.      Berikan analgetik sesuai program
2.       Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan adanya tempat masuknya organisme sekunder terhadap tindakan curratage
Kriteria Hasil :
Tanda-tanda infeksi tidak muncul
Intervensi :
a.       Kaji dan awasi tanda-tanda infeksi
b.      Kurangi masuknya organisme pada individu
c.       Ganti balutan dengan cara septik dan aseptik
d.      Lindungi individu yang defisiensi imunitas dari infeksi
e.       Berikan antibiotik sesuai program terapi
3.       Intoleransi aktivitas berhubungan dengan peningkatan kebutuhan sekunder akibat pasca abortus
Kriteria Hasil :
Dapat memperlihatkan kemajuan dalam beraktivitas
Intervensi :
a.       Monitor TTV
b.      Kaji respon individu terhadap aktivitas
c.       Tingkatkan aktivitas secara bertahap
d.      Instruksikan klien untuk konsultasi kepada dokter dan ahli terapi fisik.
4.       Kurang pengetahuan mengenai perubahan fisiologis periode pemulihan, perawatan diri, dan kebutuhan perawatan pasca abortus berhubungan dengan kurang informasi.
Kriteria Hasil :
Dapat memahami tentang perubahan fisiologis periode pemulihan, kebutuhan-kebutuhan individu melakukan aktivitas/ prosedur yang perlu.

Intervensi :
a.      Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar.
b.      Berikan rencana penyuluhan tertulis dengan menggunakan format standarisasi
c.      Berikan informasi tentang perubahan psikologis dan fisiologis yang normal
d.     Tinjau ulang kebutuhan-kebutuhan perawatan diri.
(Doengoes, ME, 2000)



























RESUME KEPERAWATAN


1.      Tanggal pengkajian             : 12 Januari 2006
2.      Nama pengkaji                    : Tri Wahyuni
3.      Ruang                                 : Kenanga
4.      Waktu pengkajian               : 08.55 WIB

A.    Identitas

1.   Identifikasi Klien
Nama              : Ny. S
Umur              : 38 tahun
Jenis kelamin  : perempuan
Alamat            : Karang Wuluh, Temon, Kulon Progo
Pendidikan     : SLTP
Agama            : Islam
Suku / bangsa : Jawa/ Indonesia
Tanggal masuk : 11 Januari 2006
No. RM          : 367648
Diagnosa medis : Abortus incompletus
2.   Identitas Penanggung Jawab :
Nama              : Tn. U
Umur              : 42 tahun
Jenis kelamin  : Laki-laki
Alamat            : Karang Wuluh, Temon, Kulon Progo
Pekerjaan        : Petani
Agama            : Islam
Hubungan dengan klien : Suami

B.     Riwayat Kesehatan

  1. Keluhan utama
Pasien mengatakan takut dan cemas
b.     Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengatakan 1 hari sebelum dibawa ke RS pasien tiba-tiba mengalami perdarahan. Kemudian pasien ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUD Wates di Poli Kandungan pada tanggal 11 Januari 2006 jam 10.36 G2P1A0 hamil 3 bulan. Setelah USG ternyata pasien mengalami abortus incompletus. Kemudian dari polikandungan dibawa ke ruang bersalin/ kenanga dengan KU: sedang, tekanan darag 110/70 mmHg. Tinggi fundus uteri tidak teraba. Dan keluar darah sedikit, saat dikaji pasien mengatakan agak cemas dengan tekanan darah 110/70 mmHg, Nadi : 80 x/mnt, suhu : 3660C. Pasien belum mendapat terapi, rencana akan dicurratage.
c.      Riwayat Obstetrik
Pasien mengatakan siklus mentruasi 28 hari lamanya 3-7 hari. Hari pertama haid terakhir (HPHT) pada tanggal 28 Oktober 2005. TFU tidak teraba dan tidak terdengar Djj.
d.     Riwayat KB
Pasien sebelumnya pernah KB yaitu KB suntik tapi kemudian berhenti karena badan menjadi gemuk.
e.      Rencana KB
Pasien mengatakan setelah ini akan melakukan KB IUD/ spiral
f.      Riwayat Persalinan
Pasien mengatakan sebelumnya dia pernah melahirkan 1 anak. Anak pertama laki-laki berat badan lahir 2800 gram dan lahir spontan
g.     Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien sebelumnya belum belum pernah mengalami abortus. Pasien sudah pernah mengalami persalinan di Bidan dan belum pernah dirawat di RS.
h.     Riwayat Penyakit keluarga
Pasien mengatakan ibu pasien pernah mengalami abortus  1 kali.

C.    Pola Pengkajian Fungsional Gordon

1.      Persepsi  Kesehatan - Pola manajemen kesehatan
Saat dikaji : Pasien mengatakan apabila ada anggota keluarga yang sakit yang dilakukan klien membawakannya ke Puskesmas/ bidan.
2.      Pola Nutrisi dan Metabolik
Sebelum sakit : pasien makan 3x sehari dengan nasi, lauk, sayur dan minum 7-8 gelas tidak ada pantangan.
Saat dikaji       : pasien makan nasi, lauk, sayur dan minum 6-7 gelas tidak masalah.


3.      Pola Eliminasi
Sebelum sakit : pasien BAK  4-5 kali seharu warna kuning, bau khas dan BAB 1-2 kali sehari warna kuning, konsistensi lembek, bau khas.
Saat dikaji       : pasien tidak mengalami gangguan dalam beraktivitas dan tidak dibantu keluarga.
4.      Pola Latihan dan aktivitas
Sebelum sakit : pasien dalam beraktivitas tanpa bantuan orang lain.
Saat dikaji       : pasien tidak mengalami gangguan dalam beraktivitas dan tidak dibantu.
5.      Pola persepsi dan kognitif
Sebelum sakit dan saat dikaji pasien mengatakan belum tahu bagaimana merawatnya.setelah dilakukan curratage dan bagaimana efeknya.
6.      Pola Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit : pasien biasa tidur 7-8 jam perhari tidak pernah tidur siang dan tidak ada masalah.
Saat dikaji       : pasien mengatakan bisa tidur seperti hari biasa.
7.      Konsep diri dan Persepsi diri
a.       Gambaran diri
Pasien mengatakan suka pada bagian tubuh semuanya tidak ada yang tak disukainya.
b.      Ideal diri
Pasien mengatakan ingin menjadi ibu yang baik bagi anak dan keluarga
c.       Peran
Pasien seorang ibu berumur 24 tahun berperan sebagai ibu dari 1 putra.
d.      Harga diri
Pasien senang menjadi ibu dari 1 putra dan istri bagi seorang suami, dan merasa dihargai.
8.      Pola Peran dan Hubungan
Sebelum sakit : pasien berhubungan dengan keluarga dan tetangga baik.
Saat dikaji       : hubungan dengan keluarga, perawat, dan pasien lain baik.
9.      Pola Reproduksi dan Seksual
Tidak dikaji.


10.  Pola koping
Sebelum sakit : pasien mengatakan jika ada masalah selalu cerita dengan suami dan orang tuanya.
Saat dikaji       : pasien juga sedang bercerita dengan suami dan orang tuanya.
11.  Pola keyakinan dan nilai
Sebelum sakit : pasien biasa sholat 5 waktu dan selalu berdoa kepada Alloh SWT.
Saat dikaji       : pasien hanya berdoa dan menyerahkan seluruhnya kepada Alloh.

D.    Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum, Sedang, Cmpos mentis
Tanda-tanda Vital ; TD= 110/70 mmHg  N= 80 x/mnt    S=36,6 0C

Pemeriksaan Cepalo Caudal

Kepala    :  Rambut agak panjang berombak, warna hitam, bersih.
Mata       :  Simetris konjungtiva merah muda, penglihatan jelas tidak menggunakan alat bantu.
Hidung   :  Tidak ada polip, tidak ada gangguan penciuman
Telinga    : Simteris, tidak ada ganggun-gangguan pendengaran.
Mulut      :  Bersih, tidak ada stomatis, mukosa mulut lembab.
Leher      : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, JVP Normal
Dada       :  Simetris, payudara simetris tidak ada benjolan atau kelainan.
Abdomen:  Bunyi peristaltik (+), striae tidak ada
Punggung:  Tidak terdapat luka decubitus
Vagina Perianal : Perdarahan sedikit warna merah muda.
Rektum   :  Tidak terjadi hemoroid
Ektrimitas:  Ekstrimitas atas tangan kiri terpasang infus KAEN BB, ektrimitas bawah dapat bergerak bebas.

 

E.     Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium tanggal
Golongan darah    : A
Hemoglobin          : 12,49 %
Leukosit                : 11,600
LED          : 55/70 mm/jam                       N L < 14         P<20
Jenis Leukosit :
-    Cosinofil   2%       N 1-3
-    Basofil      0%       N 0-1
-    N. Batang 2%       N 2-6

F.     Terapi

Tanggal 11 Januari 2006
-    Terapi cairan KA – EN MG 3
Terapi tanggal 12 Januari 2006
-    Terapi oral :     Ampicilin 3 x 500 mg
Asam mefenamat 3 X
-    Diit : Nasi






















ANALISA DATA
Nama : Ny. S
Ruang : Kenanga
No RM : 367648

TANGGAL

NO

DATA FOKUS
PROBLEM
ETIOLOGI
PARAF
11-01-06
09.00






















12-01-06
09.00


I







II









III













IV



DS : Pasien mengatakan perasaannya agak cemas
DO : Pasien terlihat kawatir Raut wajah was-was

DS : Pasien mengatakan tidak tau tentang penyakit dan pengobatannya
DO : Pasien terlihat bingung pasien bertanya

DS : Pasien menyatakan nyeri pada daerah abdomen, skala 3 nyeri hilang timbul seperti ditusuk
DO : Pasien tampak meringis pasien tampak memegangi perut

DS : -
DO : terdapat luka pada daerah uterus



Cemas







Kurang pengetahuan








Nyeri













Resiko tinggi infeksi
Kurang pengetahuan






Kurang informasi








Inkontinitas jaringan akibat pembersihan sisa plasenta.









Tempat masuknya Organisme sekunder terhadap tindakan curratage







DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nama : Ny. S
Ruang : Kenanga
No RM : 367648
NO. DX
DIAGNOSA KEPERAWATAN
TGL DITEMUKAN
PARAF
I

II

III


IV

Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi
Nyeri (akut) berhubungan dengan inkontinuitas jaringan akibat pembersihan sisa plasenta
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya mikroorganisme sekunder akibat tindakan curratage.

11-01-2006

11-01-2006

12-01-2006


12-01-2006




















RENCANA KEPERAWATAN
Nama : Ny. S
Ruang : Kenanga
No RM : 367648

Tanggal
No Dx
Tujuan dan Kriteria Hasil
Intervensi
Paraf
11-01-06
09.00



















12-01-06
09.00
I.









II.










III.











IV.






Setelah dilakukan tindakan kepewatan selama 1x24 jam diharapkan cemas dapat teratasi dengan kriteria hasil :
-    Pasien terlihat tenang
-    Tidak terlihat kawatir




Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit, diharapkan kurang pengetahuan dapat teratasi kriteria hasil TD
-    Pasien mengerti tentang penyakit dan pencegahan





Setelah dilakukan tinakan keperawatan 1x24 jam diharapkan nyeri berkurang atau teratasi dengan kriteria hasil :
-    Skala nyeri : 0
-    Pasien tidak memegangi daerah nyeri
-    Pasien tidak meringis




Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil :
-    Tidak muncul tanda-tanda infeksi
-    Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya.
-    Bina hubungan saling percaya
-    Berikan lingkungan yang tenang
-    Berikan dan ajarkan teknik relaksasi

-    Kaji tingkat pengetahuan klien
-    Berikan pendidikan kesehatan .
-    Kaji kesiapan dan kemampuan pasien memahami informasi.
-    Berikan segala informasi tentang segala yang belum diketahui.

-    Kaji KU dan keluhan pasien
-    Monitor TTV
-    Kaji intensitas skala nyeri
-    Posisikan senyaman mungkin dan anjurkan istirahat
-    Ajarkan teknik relaksasi
-    Berikan terapi sesuai program : Analgetik

-    Monitor TTV
-    Observasi tanda-tanda infeksi
-    Ganti balutan dengan cara septik dan aseptik
-    Berikan antibiotik sesuai program.

 








IMPLEMENTASI

Nama : Ny. S
Ruang : Kenanga
No RM : 367648
TGL/ JAM
NO DX
IMPLEMENTASI
RESPON
PARAF
11-01-06
08.50





09.10



09.20




12-01-06
08.55




10.00







11.00










12-01-06
12.00






12.10


12.15


14-01-06
05.30





05.45

06.00

06.15







I. II

I




II



I




I





I. II



II



I II


II



I



III IV

III




III





III
IV





III

IV

III, IV




III
Mengkaji KU dan Keluhan pasien
Mendorong/ menganjurkan pasien untuk mengungkapkan perasaannya.

Mengkaji tingkat pengetahuan klien


Mengajukan kontrak untuk penkes
Memberikan lingkungan yang tenang

Mengkaji KU dan keluhan pasien

Membina hubungan saling percaya.

Mengkaji TTV



Mengkaji kesiapan dan kemampuan pasien memahami informasi.

Memberikan pendidikan kesehatan

Memberikan informasi tentang segala yang belum diketahui

Mengajarkan teknik relaksasi memberikan lingkungan yang tenang

Mengkaji KU dan keluhan pasien

Mengkaji intensitas skala nyeri



Memposisikan pasien senyaman mungkin dan anjurkan istirahat/ bedrest.
Mengajarkan teknik relaksasi

Memonitor TTV



Mengkaji KU dan keluhan pasien

Mengkaji intensitas skala nyeri
Mengobservasi tanda-tanda infeksi
Memberikan terapi oral sesuai program :
Ampicilin 500 mg
Memberikan diit sesuai program nasi

Menganjurkan pasien untuk istirahat
-    KU pasien, sedang mengeluh, agak cemas
-    Pasien merasa agak cemas dan rindu pada anak-anak


-    Klien mengungkapkan belum mengerti tentang penyakitnya.

-    Pasien menerima kotrak
-    Pasien merasa tenang



-    KU pasien sedang pasien mengatakan sudah tidak cemas.
-    Pasien percaya


-    TD : 110/70 mmHg
-    S : 36 0C
-    N : 80 x/mnt

-    Pasien merasa siap



-    Pasien mendengarkan penjelasan

-    Pasien kooperatif



-    Pasien kooperatif
-    Pasien merasa tenang


-    Pasien KU, sedang, mengeluh nyeri perut skala 3.
-    Pasien mengatakan nyeri.



-    Pasien mengikuti anjuran

-    Pasien kooperatif


-    TD : 120/80 mmHg
-    S : 36,2 0C
-    N : 84 x/mnt

-    KU pasien sedang
Pasien mengatakan sudah tidak nyeri.
-    Skala nyeri pasien O

-    Tidak timbul tanda-tanda infeksi
-    Terapi oral masuk





-    Pasien mengikuti anjuran