PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jumlah Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia paling besar jumlahnya bila dibandingkan dengan negara-negara Asean. Pada tahun 2007 lalu, tercatat sebesar 247 per 100 ribu per kelahiran. Hal tersebut juga tak jauh berbeda juga dengan Angka Kematian Bayi (AKB) ditahun yang sama mencapai 26,9 per seribu kelahiran. (http :/ / www. primaironline. com/berita/ detail.php? catid= Sosial & artid = angka – aki – akb – di - indonesia – paling –tinggi –di -asean)
Salah satu penyebab masih tingginya AKI dan AKB adalah adanya 4 terlalu, too Young (terlalu muda), too old (terlalu tua), too many (terlalu banyak) dan too cloose (terlalu dekat jaraknya) (Hartanto, 2003). KB merupakan suatu cara yang efektif untuk mencegah mortalitas ibu dan anak karena dapat menolong pasangan suami istri menghindari kehamilan resiko tinggi, dapat menyelamatkan jiwa dan mengurangi angka kesakitan.
Salah satu jenis kontrasepsi efektif yang menjadi pilihan adalah KB hormonal suntikan (injectables), dan merupakan salah satu alat kontrasepsi yang berdaya kerja panjang (lama), yang tidak membutuhkan pemakaian setiap hari. Kontrasepsi yang baik adalah aman, dapat diandalkan, sederhana, murah, dapat diterima orang banyak, dan pemakaian jangka lama. Kontrasepsi hormonal jenis KB suntikan di Indonesia seringkali banyak dipakai karena kerjanya yang efektif, pemakaiannya praktis, harganya relative murah dan aman. Cara ini mulai disukai masyarakat kita dan diperkirakan setengah juta pasangan memakai kontrasepsi suntikan untuk mencegah kehamilian. Penelitian kontrasepsi suntikan dimulai tahun 1965, dan sekarang diseluruh dunia diperkirakan berjuta-juta wanita memakai cara ini untuk tujuan kontrasepsi. (Mochtar Rustam, 2007 : 277)
Kontrasepsi suntikan merupakan kontrasepsi sementara yang paling baik dengan angka kegagalan kurang dari 0,3 % kegagalan per 100 wanita pertahun serta mempunyai efektifitas yang cukup tinggi untuk mencegah kehamilan, asal penyuntikannya dilakukan sesuai jadwal yang telah ditentukan. (Saifudin, 2006)
Metode suntikan KB telah menjadi bagian gerakan Keluarga Berencana Naional serta peminatnya makin bertambah. Tingginya minat pemakaian metode kontrasepsi suntik oleh karena aman, sederhana, efektif, tidak menimbulkan gangguan dan dapat dipakai pada pasca persalinan. (Manuaba, 1998 : 44)
Berdasarkan jumlah akseptor KB di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik pada bulan Januari – Juni 2010 adanya peningkatan jumlah akseptor KB suntik semula 140 mengalami peningkatan menjadi 360 orang. Terdiri dari pengguna KB suntik 3 bulan 315 orang (19,77 %) pengguna KB suntik 1 bulan atau cyclofem, 45 orang (1,39 %) tidak ada pengguna pil, tidak ada pengguna KB AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), tidak ada pengguna Implant, tidak ada pengguna kondom. (Suryaningrum Wongso, 2010)
Karakteristik bagi akseptor KB adalah terdiri dari umur, pendidikan, pekerjaan, paritas dan status ekonomi. Pada periode usia, menurut AB Saifudin periode usia antara 20-35 tahun merupakan usia paling baik untuk melahirkan jumlah anak dua dan jarak antara dua kelahiran sebaiknya 2-4 tahun. Pemakaian KB Suntik progestin merupakan metode kontrasepsi yang cocok untuk menjarangkan kehamilan pada periode usia ini (Saifudin AB, 2006) didukung pula oleh BKKBN bahwa kontrasepsi nasional harus mempertimbangkan umur akseptor, bila umur lebih dari 35 tahun, maka lebih efektif menggunakan metode kontrasepsi jangka panjang. Dilihat dari tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin tinggi pula pemahaman tentang alat kontrasepsi. (Salam N, 2008). Dilihat dari segi pekerjaan dapat mempengaruhi perilaku seseorang, ibu yang bekerja memiliki akses lebih baik terhadap berbagai informasi mengenai program kesehatan tentang alat kontrasepsi, jenis pekerjaan dapat mempengaruhi minat terhadapt jenis kontrasepsi. Dilihat dari tingkat paritas dikatakan bahwa terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik yang berparitas tinggi, jadi tergantung dari tujuan akseptor apakah ingin menjarangkan atau menghentikan kehamilan. (Notoatmodjo, 2003) Dilihat dari status ekonomi menurut Depkes RI, faktor ekonomi keluarga berpengaruh juga terhadap tingkat pengetahuan dan kecerdasan anggota keluarga.
Berdasarkan hasil tersebut di atas penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana gambaran karakteristik akseptor KB suntik progestin di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010 ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010 .
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui :
a. Untuk mengetahui gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin berdasarkan Umur di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010.
b. Untuk mengetahui gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin berdasarkan Tingkat Pendidikan di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010.
c. Untuk mengetahui gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin berdasarkan Pekerjaan di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010.
d. Untuk mengetahui gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin berdasarkan Paritas di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010.
e. Untuk mengetahui gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin berdasarkan Status Ekonomi di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Praktisi
1. Bagi Petugas Kesehatan
Sebagai bahan informasi bagi tenaga kesehatan untuk meningkatkan pelayanan secara optimal khususnya dalam memberikan bimbingan dan penyuluhan pada masyarakat tentang alat kontrasepsi KB Suntik Progestin.
2. Bagi BPS / Tempat penelitian
Diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang gambaran karakterisitik akseptor KB suntik progestin dan juga sebagai bahan kajian untuk mensukseskan program “Keluarga Berkualitas 2015”
1.4.2 Manfaat Teoritis
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya dan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan pengetahuan tentang gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin. Dan dapat dijadikan literatur di perpustakaan Graha Husada Cirebon tentang penelitian KB suntik progestin.
2. Bagi Mahasiswa
Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman dalam penelitian tentang gambaran karakteristik akseptor KB Suntik Progestin.
BAB II
2.1 Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin
Akseptor KB Suntik Progestin adalah pengguna kontrasepsi suntik jenis progestin.
2.1.1 Definisi Karakteristik
Karakteristik adalah kualitas diri yang membedakan individu atau kelompok individu yang satu dengan yang lainnya. Kualitas atau ciri-ciri ini bias demografis seperti umur, pendidikan, pekerjaan, paritas dan status ekonomi atau spesifik untuk populasi saja. ( Bringmapela, 2008 )
1. Umur
Umur adalah lamanya hidup seseorang dari sejak lahir yang dinyatakan dengan tahun. (Notoatmodjo, 2003). Telah lama diketahui bahwa umur sangat berpengaruh terhadap proses reproduksi. Umur yang menganggap optimal untuk kehamilan adalah antara 20-35 tahun, sedangkan yang dianggap berbahaya adalah kehamilan 18 tahun ke bawah yang disebut sebagai kehamilan remaja dan umur 35 tahun ke atas. (Hartanto Hanafi, 2004)
2. Pendidikan
Pendidikan adalah upaya direncanakan untuk mempengaruhi orang baik individu, kelompok, masyarakat, sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. (Notoatmodjo, 2003)
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepandaian atau kemampuan didalam atau diluar sekolah berlangsung seumur hidup. (Notoatmodjo, 2003)
Menurut I.B Mantra pendidikan diklasifikasikan menjadi :
a. Pendidikan tinggi : Akademi/PT
b. Pendidikan sedang : Tamat SLTP/SMU
c. Pendidikan rendah : tidak bersekolah/Tidak tamat SD/SD
3. Paritas
Paritas merupakan jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan jumlah janin yang dilahirkan. Janin lahir hidup atau mati setelah viabilitas dicapai, tidak mempengaruhi paritas. (Azrul Anzar, 2008)
Di Negara kita wanita dengan paritas yang tinggi masih sering ditemukan belum menggunakan alat kontrasepsi. Sebetulnya usaha untuk mengurangi kehamilan pada usia preventif yaitu melalui program KB yang telah ada, yang penting adalah bagaimana kita dapat memberikan motivasi agar mereka mempunyai minat untuk memiliki keluarga yang sejahtera dapat menentukan angka kelahiran yang bermakna. (Hartanto Hanafi, 2004)
2.2 Kontrasepsi
2.2.1 Pengertian Kontrasepsi
Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat/alat, atau dengan operasi. Pemilihan jenis kontrasepsi didasarkan pada tujuan penggunaan kontrasepsi.( Winkjosastro, 2002)
Sedangkan Kontrasepsi suntik adalah cara untuk mencegah terjadinya kehamilan dengan melalui suntikan hormonal.
2.2.2 Macam-macam Kontrasepsi
a. Metode Suhu Basal adalah pasangan sukarela menghindari senggama pada masa subur ibu (ketika ibu tersebut dapat menjadi hamil) atau senggama pada masa subur untuk mencapai kehamilan. (Saifudin, 2006)
b. Senggama Terputus adalah metode keluarga berencana dimana pria mengeluarkan alat kelaminnya (penis) dari vagina sebelum pria mencapai ejakulasi. (Saifudin, 2006)
c. Kondom adalah selubung atau sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai bahan diantaranya lateks (karet), plastik (vinil) atau bahan alami (produksi hewani yang dipasang pada penis saat berhubungan). (Saifudin, 2006)
d. Spermisida adalah bahan kimia digunakan untuk menonaktifkan atau membunuh sperma.( Saifudin, 2006)
e. Kontrasepsi Pil dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
1) Pil Kombinasi adalah pil kontrasepsi berisi estrogen maupun progesterone. (Mochtar Rustam, 2002 : 277)
2) Mini Pil adalah kontrasepsi yang hanya terdiri depo progesterone saja dalam dosis rendah (0,5 mg atau kurang) dan diberikan secara terus menerus setiap hari tanpa berhenti. (Mochtar Rustam, 2002 : 277)
f. Kontrasepsi Suntik
1) Suntikan Kombinasi adalah 25 mg depomedroskipregesteron asetat dan 5 mg estradion sipionat yang diberikan injeksi IM, sebulan sekali (cyclofem), dan 5 mg noretridron enatat dan 5 mg estradiol palerat yang diberikan secara injeksi IM sebulan sekali. (Saifudin, 2006).
2) Suntikan Progestin adalah kontrasepsi suntikan yang hanya mengandung progestin, terdiri dari dua macam yaitu :
a) Depo Medroksiprogesteron Asetat (DMPA) mengandung 150 mg DPA yang diberikan setiap 3 bulan dengan cara suntikan (di dareah bokong)
b) Depo Nerotisterin Enantat (Depo Noristerat) yang mengandung 200 mg nerotindorin enantat, diberikan setiap 2 bulan dengan cara suntik IM. (Saifudin : 2006).
g. Kontrasepsi Implanon adalah jenis kontrasepsi susuk tidak degradasi yang terdiri dari simpai kopolimer eyilen, vinasetat (EVA) sebagai pembawa subtansi aktif senyawa progestin 3 – keto – desogestrel. Bentuknya batang putih lentur dengan panjang 40 mm dan diameter 2 mm dalam suatu jarum yang terpasang inserter khususnya berbentuk semprit sekali pakai dalam kemasan steril kantong alumunium. (Mansyur, Arif : 2000)
h. AKDR atau IUD adalah alat kontrasepsi yang dimasukkan ke dalam rongga rahim wanita untuk tujuan kontrasepsi. (Mochtar Rustam, 2002 : 277)
i. Tubektomi atau sterilisasi pada wanita adalah suatu kontrasepsi permanen yang dilakukan dengan cara melakukan tindakan pada kedua saluran telur sehingga menghalangi pertemuan sel telur (ovum) dengan sel mini (sperma). (Mochtar Rustam, 2002 : 277)
j. Sterilisasi Laparoskopi adalah cara visualisasi rongga perut dan panggul melalui insisi kecil pada dinding perut setelah dibuat dalam keadaan nemoperitoneum. (Mochtar Rustam, 2002 : 277)
k. Sterilisasi pada pria atau vasemtomi adalah tindakan memotong dan manutup saluran mani (vas diffrens) yang menyalurkan sel mini (sperma) keluar dari pusat produksinya di testis. (Mochtar Rustam, 2002 : 277)
2.2.3 Kontrasepsi Suntik Progestin
2.2.3.1 Definisi Kontrasepsi Suntik Progestrin
KB Suntik Progestrin adalah obat pencegah kehamilan yang pemakaiannya dengan jalan menyuntikkan obat tersebut pada wanita subur, obat ini berisi DMPA. (Maryati, 2006)
KB Suntik Progestrin (DMPA) yaitu mengandung 150 mg DMPA yang diberikan setiap progesterone dengan cara di suntik intramuskuler. (Saifudin, 2006)
2.2.3.2 Cara Kerja Kontrasepsi Suntik Progestin
1. Primer : mencegah ovulasi
Kadar FHS dan LH menurun tidak terjadi sentakan (LH surge). Respon kelenjar hipophsye terhadap gonadotropin relasing hormoneeksogenous tidak berubah, sehingga member kesan proses terjadi di hipotalamus dari pada kelenjar dihipopyse. Pada pemakaian progestin, endometrium menjadi dangkal dan atropis dan kelenjar-kelenjar yang aktif, sering stroma menjadi oedematus. Dengan pemakaian jangka lama, endometrium dapat menjadi sedemikian sedikitnya sehingga tidak didapatkan atau hanya didapatkan sedikit sekali jaringan bila dilakukan biopsy, tetapi perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi dormal dalam waktu 90 hari setelah sentikan progestin yang terakhir.
2. Sekunder
a. Lendir serviks menjadi kental, sehingga merupakan barier terhadap protozoa (sperma).
b. Membuat endometrium menjadi kurang baik atau tidak layak untuk implantasi dari ovum yang telah dibuahi.
c. Mungkin mempengaruhi kecepatan transport ovum di dalam tuba falopii. (Hartanto, 2004)
2.2.3.3 Efektifitas Kontrasepsi Suntik Progestin
Kedua kontrasepsi tersebut mempunyai efektivitas yang tinggi dengan 0,3 kehamilan per 100 perempuan per tahun, asal penyuntikan dilakukan secara teratur sesuai jadwal yang ditentukan.
2.2.3.4 Keuntungan Kontrasepsi Suntik Progestin
a. Sangat efektif
b. Pencegahan kehamilan jangka panjang
c. Tidak berpengaruh pada hubungan suami istri
d. Tidak berpengaruh terhadap ASI
e. Sedikit efek samping
f. Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah.
g. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik.
h. Dapat digunakan oleh perempuan usia dari 35 tahun sampai premenopause.
i. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik.
j. Membantu mencegah kelainan jinak payudara.
k. Membantu mencegah beberapa penyakit radang panggul
l. Menurunkan krisis anemia bulan sabit (Sikle cell).
2.2.3.5 Keterbatasan Kontrasepsi Suntik Progestin
a. Sering ditemukan gangguan haid.
b. Siklus haid yang memendek dan memanjang.
c. Perdarahan yang banyak atau sedikit.
d. Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spoting).
e. Tidak haid sama sekali.
f. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan dihentikan.
g. Terlambatnya kembali kesuburan setelah pengentian pemakaian.
h. Permasalahan berat badan merupakan efek samping tersering.
i. Klien sangat bergantung pada tempat sarana pelayanan kesehatan (harus kembali untuk suntikan).
j. Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan infeksi menular seksual, hepatitis B virus, infeksi virus HIV.
k. Terlambatnya kembali kesuburan bukan karena terjadinya kerusakan atau kelainan pada organ genetalia, melainkan karena belum habisnya pelepasan obat suntikan dari deponya (tempat suntikan).
l. Terjadi perubahan pada lipid serum pada penggunaan jangka panjang.
m. Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurun kepadatan tulang dan densitas.
n. Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, menimbulkan libido, gangguan emosi, sakit kepala, nervositas, jerawat.
2.2.3.6 Indikasi Kontrasepsi Suntik Progestin
a. Usia reproduksi.
b. Nullipara yang telah memiliki anak.
c. Menghendaki kontrasepsi jangka panjang dan yang memiliki efektifitas tinggi.
d. Menyusui dan membutuhkan kontrasepsi yang sesuai.
e. Setelah melahirkan dan menyusui.
f. Setelah abortus atau keguguran.
g. Telah banyak anak, tetapi belum menghendaki tubektomi.
h. Perokok.
i. Tekanan darah kurang dari 180/110 mmHg, dengan masalah gangguan pembekuan darah atau anemia bulan sabit.
j. Menggunakan obet untuk epilepsy (penitoid dan barbiturate) atau obat tuberculosis (rifampisin).
k. Tidak dapat memakai kontrasepsi yang mengandung estrogen.
l. Sering lupa menggunakan kontrasepsi pil.
m. Anemia defisiensi besi.
n. Mendekati usia menopause yang tidak mau atau tidak boleh menggunakan pil kontrasepsi kombinasi.
2.2.3.7 Kontra Indikasi Pemakaian Kontrasepsi Suntik Progestin
a. Hamil atau dicurigai hamil
b. Tidak dapat menerima terjadinya gangguan haid, terutama amenorhoe.
c. Perdarahan pervaginam yang belum jelas penyebabnya.
d. Menderita kanker payudara atau riwayat kanker payudara.
e. DM disertai komplikasi, hipertensi.
2.2.3.8 Waktu Mulai Menggunakan Kontrasepsi Suntik Progestim
a. Setiap selama siklus haid, asal ibu tersebut tidak hamil.
b. Mulai hari pertama haid sampai hari ke-7 siklus haid.
c. Pada ibu yang tidak haid, injeksi pertama dapat diberikan setiap saat, asalkan saja ibu tersebut tidak hamil. Selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
d. Ibu yang menggunakan kontrasepsi hormonal lain dan ingin mengganti dengan kontrasepsi suntikan. Bila telah menggunakan kontrasepsi hormonal sebelumnya secara benar dan ibu tersebut tidak perlu menunggu sampai haid berikutnya datang.
e. Bila ibu sedang menggunakan jenis kontrasepsi lain dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi suntikan yang lain lagi, kontrsaepsi suntikan yang akan diberikan dimulai pada saat jadwal kontrasepsi suntikan yang sebelumnya.
f. Ibu yang menggunakan kontrasepsi non hormonal dan ingin menggantinya dengan kontrasepsi hormonal, suntikan pertama kontrasepsi hormonal yang akan diberikan dapat segera diberikan, asal saja ibu tersebut tidak hamil dan pemberiannya tidak perlu menunggu haid berikutnya datang. Bila ibu disuntik setelah hari ke-7 haid tersebut selama 7 hari setelah suntikan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
g. Ibu ingin menggantikan AKDR dengan kontrasepsi suntikan pertama diberikan pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid, atau dapat diberikan pada hari pertama sampai hari ke-7 siklus haid, atau dapat diberikan setiap saat pada hari ke-7 siklus haid, asal saja yakin ibu tersebut tidak hamil.
h. Ibu tidak haid atau ibu dengan perdarahan teratur. Suntikan pertama diberikan setiap saat, asal saja ibu tersebut tidak hamil, dan selam 7 hari setelah suntikan tidak boleh berhubungan seksual.
2.3 Konseling KB Suntik
2.3.1 Konseling Awal Pelayanan
Bila klien belum menerima konseling awal dan memilih kontrasepsi suntik sebagai metode yang akan dipakai maka dibutuhkan konseling bagi klien agar mereka dapat memakai kontrasepsi suntik dengan aman berhasil guna dan puas. Konseling yang tepat dan dapat dimengerti adalah suatu bagian terpenting dari setiap pelayanan KB. Konseling sebelum penyuntikan ialah dengan menerangkan tujuan penggunaan KB suntik, kekurangan dan manfaat dari KB sunti tata cara penyuntikan juga waktu kembali untuk suntikan berikutnya.
2.3.2 Konseling Pasca Pelayanan
Walaupun klien telah mendapat konseling setelah suntikan pertama, beberapa informasi pasca penyuntikan perlu tetap dijelaskan kembali sebelum penyuntikan ulang dan lebih ditekankan pada akhir pelayanan ulang, konseling pasca pelayanan hasur terarah pada tanda-tanda yang harus diwaspadai dapat terjadi, maka klien harus kembali ke klinik.
2.3.3 Konseling Tindak Lanjut
Informasi pasca pelayanan harus diberikan pada setiap akhir kunjungan untuk mendapatkan suntikan ulang, pemberian konseling (konselor) harus mampu mendengarkan keluhan klien dengan baik dan mempersiapkan jawaban dari setiap masalah yang diajukan peserta.
KERANGKA KONSEP
3.1 Kerangka Konsep
Untuk mengetahui gambaran Karakteristik Akseptor KB Suntik Progestin penulis menggunakan kerangka konsep yang diteliti meliputi karakteristik ibu yang terdiri dari umur, pendidikan, pekerjaan, paritas dan status ekonomi berdasarkan teori yang telah dikemukakan pada latar belakang dan definisi konseptual. Yang menjadi subjek yang diteliti yaitu Akseptor KB Suntik Progestin. Untuk lebih jelasnya, kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat dalam bagan kerangka konsep berikut ini :

Di teliti Tidak diteliti
Bagan 3.1
Kerangka Konsep
3.2 Definisi Operasional
Definisi operasional adalah suatu pengerjaan untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian untuk variabel-variabel yang diamati.(9)
Tabel 2.1 Definisi operasianal gambaran karakteristik Akseptor KB Suntik Progesteron
| No | Variabel Independen | Variabel Dependen | Definisi Operasional
| Alat ukur | Skala | Kriteria |
|
1
2
3
|
Umur
Pendidikan
Paritas
| Akseptor KB suntik progestin
| Ibu yang menjadi akseptor KB Suntik progestin
Usia akseptor yang terhitung saat dilahirkan sampai pada saat penelitian
Jenjang pendidikan formal tertinggi yang dapat terselesaikan akseptor sampai saat dilakukan penelitian
Jumlah Kehamilan yang menghasilkan janin hidup
| Data rekam medik BPS (check list)
Data rekam medik BPS (check list)
Data rekam medik BPS (check list)
Data rekam medik BPS (check list) | Ordinal
Ordinal
Ordinal
Ordinal
| a. Ya b. Tidak
a. < 20 tahun b. 20-35 tahun c. > 35 tahun
a. Rendah SD b. Sedang : tamat SMP/SMA c. Tinggi Perguruan tinggi
a. Primipara b. Multipara c. Grandemultipar
|
BAB IV
3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan melalui pendekatan survey deskriptif yang dilakukan pada sampel 60 ibu yang menjadi akseptor KB Suntik Progestin di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010.
3.2 Variabel
3.2.1 Variabel Independen (bebas)
Variabel indenpenden merupakan variable yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya dependent (terikat). Variable ini merupakan variabel bebas dalam memperngaruhi variabel lain. Dalam penelitian ini variabel indenpendennya adalah karakteristik ibu yang meliputi umur, pendidikan dan paritas ibu.
3.2.2 Variabel dependen (terikat)
Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas. Variabel ini dapat tergantung dari variabel bebas terhadap perubahan. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah Akseptor KB Suntik Progestin
3.3 Populasi dan Sampel
3.3.1 Populasi
Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu yang akan diteliti. (Hidayat AA, 2007). Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh akseptor KB Suntik progesteron di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010 dengan jumlah akseptor 329 orang.
3.3.2 Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang akan diletili atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki populasi. (Hidayat AA, 2007)
Penelitian ini adalah pada ibu yang menjadi akseptor KB Suntik Progestin di BPS, dengan teknik pengambilan sampel “simple random sampling” yaitu secara acak atau sistematis (systematic sampling) semua Dengan populasi 360 peserta KB suntik progestin, dan sampel yang diinginkan adalah 60
3.4 Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November tahun 2010
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon tahun 2010.
3.5 Instrumen Penelitian
Alat yang di gunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini berupa data sekunder (data rekam medik) akseptor KB suntik progestin BPS Suryaningrum adalah menggunakan studi dokumentasi yang disajikan dalam bentuk check list. Lembar chek list adalah lembaran yang berisi daftar variabel yang akan di teliti, dalam hal ini peneliti hanya memberikan tanda atau chek list ke setiap kemunculan gejala yang di maksud. (Notoatmodjo, 2005)
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah observasi dokumentasi. Observasi dokumentasi atau pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana yang antara lain meliputi melihat dan mencatat jumlah taraf aktifitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.
Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi yaitu metode pengumpulan data dengan cara pengambilan data yang berasal dari dokumentasi asli, dalam hal ini adalah rekam medik Akseptor KB Suntik Progestin di BPS Suryaningrum Wongso Desa Gebangudik Kecamatan Gebang Kabupaten Cirebon periode Januari – Juni tahun 2010.
3.7 Pengolahan Data
1. Editing
Merupakan tahap pengelompokan data yang telah ada untuk melakukan pengecekan data, kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data yang sumbernya berasal dari data rekam medik.
2. Coding
Tahap ini merubah data yang dikumpulkan kedalam bentuk yang lebih ringkas yaitu mengubah data berbentuk huruf menjadi data berbentuk angka atau bilangan
3. Entry Data
Data yang telah diberi kode kemudian dimasukan kedalam komputer.
4. Cleaning