BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perasaan cinta dan kasih sayang adalah karunia Allah SWT yang sangat manis kepada manusia. Perasaan tersebut menjadi nilai tersendiri dalam pernikahan (rumah tangga), antar seorang lelaki dan perempuan, sebagai teman hidup, atau pasangan.
Cinta adalah sesuatu rasa yang “unexpainable” pada sesuatu dan tidak ingin sesuatu tersebut pergi dan/atau menjauh dari kita. Definisi cinta memang relatif. Bergantung pada kehidupan seseorang. Memang cinta merupakan suatu yang agung. Cinta bisa kepada siapa saja, kepada Keluarga, pacar, alam, harta dan lain sebagainya. Namun cinta yang paling hakiki adalah cinta pada Sang Pencipta kita, Allah SWT. Karena Allah Maha Besar dan Kekal, maka dengan mencintai-Nya, kita tidak akan takut untuk ditinggalkan.
Allah SWT berfirman Allah, "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cendurung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (QS. 30: 21)
Sebaliknya, orang-orang yang tidak mempunyai perasaan kasih dan sayang adalah mereka yang tidak percaya (kepada ayat-ayat-Nya juga kepada-Nya) dan tidak membuat kerja-kerja kebaikan. Kepada mereka perasaan tersebut tidak diletakkan-Nya ke dalam hati mereka.
Demikian Allah SWT berfirman yang berbunyi, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang." (QS Maryam 19: 96)
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Budaya Dasar dan setelah membaca makalah ini diharapkan mahasiswa/I dapat menjelaskan.
1. Definisi Cinta dan kasih sayang.
2. Dapat membedakan antara cinta dan kasih sayang
3. Dapat memilih prioritas antara cinta dan kasih sayang.
1.3 Sistematika Penulisan
Data yang diambil dalam pembuatan makalah ini adalah melalui study literatur yaitu dengan cara membaca dari buku-buku yang berhubungan dan dari internet.
Adapun mengenai sistematika penulisan dibagi menjadi 3 pokok bagian yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN menjelaskan tentang latar belakang cinta dan kasih sayang.
BAB II : PEMBAHASAN menjelaskan definisi dan pengertian dari cinta dan kasih sayang menurut sudut pandangan penulis.
BAB III : PENUTUP menjelaskan tentang kesimpulan dan saran
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Definisi Cinta dan Kasih Sayang
1.1.1 Pengertian cinta dalam konteks hubungan horisontal.
Cinta adalah rasa menyayangi yang amat sangat. Oleh karena itu jika orang mencintai seseorang (dalam konteks universal) maka akan sangat takut untuk kehilangan dan ditinggalkan. Hubungan horizontal ini adalah hubungan antara manusia dengan semua ciptaan Allah SWT. Dari sekian banyak literatur yang aku baca, aku menyimpulkan ada 3 tahapan sebelum seseorang benar-benar mencintai. Seseorang mungkin bisa saja berhenti di satu tahap tanpa melanjutkan ke tahap berikutnya. Tahap-tahap itu ialah:
Suka (Menyukai) = Perasaan ingin memiliki. Jika seseorang berhenti di sini, maka yang timbul adalah obesesi untuk memiliki. Bagi sebagian orang, akan menempuh cara yang negatif untuk mendapatkan apa yang disukainya, bukan dicintainya.
Cinta (Mencintai) = Perasaan rela berkorban. Di tahap ini seseorang sudah tidak memikirkan lagi sesuatu itu jadi miliknya atau tidak, namun yang dipikirkannya adalah berbuat sesuatu yang terbaik untuk yang dicintainya. Bahkan sebagian orang lebih mementingkan “YANG DICINTAINYA” daripada kepentingan pribadinya.
Oleh karena itu, perlu kita tinjau kembali, apakah kita suka, sayang atau cinta terhadap sesuatu, kemudian cocokkan dengan sikap kita selama ini terhadapnya. Jika anda mengkui mencintai sesuatu, dan teobsesi untuk memilikinya, maka anda perlu membaca tulisan saya ini sekali lagi.
Cinta lawan jenis pada remaja. Remaja sering salah mengartikan cinta. Bahkan diantara mereka sebagian tidak tahu apa makna dan definisi cinta sesungguhnya. Bagi mereka cinta adalah pacaran, saling memiliki, sehidup semati dan sejuta istilah gombal lainnya. Padahal apa yang mereka ungkapkan itu adalah semu. Lebih pada obesesi semata. Namun sebagian kecil dari remaja ada yang tidak demikian.
Cinta != Sex (Love is not equal with sex)Cinta tidak identik dengan sex. Memang, sex adalah salah satu perwujudan dari saling mencintai. Namun ada aturan tersendiri mengenai hal ini. Cinta yang sesungguhnya akan mengesampingkan sex. Apalagi kalo belum dalam koridor pernikahan. Ingat kawan…kita manusia, bukan binatang. Manusia punya aturan dan norma, kalo binatang kan nggak, asal aja gitu.
Cinta == Rela Berkorban (Love is equal with sacrifice)
Inilah yang sesungguhnya cinta. Kalo anda sudah punya pacar, coba tinjau kembali, pengorbanan apa yang pacar berikan ke anda. Jangan-jangan malah anda yang banyak berkorban untuk dia. Ingat! Pengorbanan yang sesungguhnya adalah ketika orang lebih mementingkan kepentingan orang lain saat berbenturan dengan kepentingannya sendiri. Kalo nggak sama aja bohong. Misalnya, kita cuma punya duit Rp. 5000,- buat beli nasi dan es. Trus ada pengemis datang, kalo kita berikan ke dia Rp. 1000,- kita tidak dapat es, tapi kita kasihan juga melihatnya. Akhirnya kita “berkorban” memberikan si pengemis Rp. 1000,- dengan konsekuensi kita tidak jadi minum es, cuman makan nasi dan minum air putih saja. Nah itu namanya studi kasus “berkorban”.
Inilah yang sesungguhnya cinta. Kalo anda sudah punya pacar, coba tinjau kembali, pengorbanan apa yang pacar berikan ke anda. Jangan-jangan malah anda yang banyak berkorban untuk dia. Ingat! Pengorbanan yang sesungguhnya adalah ketika orang lebih mementingkan kepentingan orang lain saat berbenturan dengan kepentingannya sendiri. Kalo nggak sama aja bohong. Misalnya, kita cuma punya duit Rp. 5000,- buat beli nasi dan es. Trus ada pengemis datang, kalo kita berikan ke dia Rp. 1000,- kita tidak dapat es, tapi kita kasihan juga melihatnya. Akhirnya kita “berkorban” memberikan si pengemis Rp. 1000,- dengan konsekuensi kita tidak jadi minum es, cuman makan nasi dan minum air putih saja. Nah itu namanya studi kasus “berkorban”.
1.1.2 Arti dari kasih sayang
Sayang (Menyayangi) = Perasaan ingin berbuat yang terbaik untuk sesuatu namun masih memiliki perasaan ingin memiliki. Di tahap ini seseorang akan dibenturkan dengan kepentingan pribadi mereka dan sesuatu yang mereka sayangi.
Kasih sayang sebenarnya adalah satu konsep yang kadangkala sukar untuk digambarkan secara fizikal. Dengan itu, kita berasa sukar untuk melakukan sebarang tindakan yang boleh dikaitkan dengannya. Dengan kata lain, untuk lebih mudah memahami konsep kasih sayang itu, kita perlu menterjemahkannya kepada perlakuan yang menjadi lambang kepada kasih sayang seperti berpegangan tangan, bersalaman, memberi sentuhan, ciuman, pelukan, urutan, picitan, gosokan dan sebagainya.
Terdapat kajian yang mengatakan bahawa anak-anak yang dibelai dan dididik dengan kasih sayang akan menjadi lebih pintar, cerdik, tajam pemerhatian dan sentiasa berkeyakinan tinggi. Sebenarnya, apabila anak dibelai dengan kasih sayang badannya akan dirangsang untuk mengeluarkan enzim-enzim seperti endorphin, enkephalin dan norepinephrine. Ketiga-tiga enzim ini bukan sahaja mempu merangsang otak tetapi menjadikan seseorang anak itu lebih bertenaga, sehat, cerdas, berwajah ceria dan tidak mudah diserang penyakit. Sebenarnya, ibu bapa boleh membuat pilihan tentang kaedah yang sesuai dalam mendidik anak. Hakikatnya, kasih sayang memangnya mempunyai kuasa hebat yang mampu merangsang dan menyerlahkan kehebatan dan keunggulan seseorang itu, khususnya anak kita
Dengan penggunaannya sekarang, kata sayang pun lebih luas maknanya daripada cinta Dengan kata œsayang, saya bisa menjelaskan perasaan sayang pada siapa saja : suami, istri, anak, kakak, adik, ayah, ibu, paman, bibi, sepupu, kemenakan, kakek, nenek, sahabat, tukang bakso langganan, penjaga warung yang ramah, dan sebagainya. Meskipun kata cinta juga bisa digunakan untuk maksud yang kurang lebih sama, tapi akhir-akhir ini kata tersebut hanya sering digunakan untuk hubungan manusia dengan lawan jenisnya saja.
Buat saya, sayang selalu berhubungan dengan kenyamanan. Jika kita menyayangi seseorang, kita akan berusaha membuatnya merasa nyaman. Kita pun merasakan kasih sayang dari seseorang berdasarkan rasa nyaman yang kita dapatkan ketika berada di dekatnya. Oleh karena itu :
· Orang tua yang membuat anaknya merasa takut jelas tidak murni rasa sayangnya.
· Istri yang membuat suami tida betah di rumah harus mengevaluasi lagi rasa sayangnya.
· Suami yang tidak peduli perasaan istri seharusnya hidup membujang saja seumur hidup.
· Sahabat yang baik selalu membuat temannya merasa nyaman untuk bercerita tanpa takut dihakimi dan dituding macam-macam.
· Rumah yang tidak lagi terasa nyaman barangkali karena memang sudah tidak ada kasih sayang di dalamnya.
Ya, begitulah. Kalau Anda mengaku memiliki perasaan sayang pada seseorang, maka buatlah ia merasa nyaman. Demikian juga kalau Anda tengah bertanya-tanya apakah hati Anda menyimpan perasaan sayang pada seseorang, tanyalah diri sendiri : apakah ia membuat Anda merasa nyaman? Kalau ya, maka ada sesuatu yang spesial di antara Anda berdua.
Rasa sayang ini bukan hanya pada lawan jenis. Tapi memang tidak bisa dihindari hal tersebut pasti menjadi isu utama dalam benak semua orang. Tidak mengapalah. Karena itu, kita sebaiknya mengevaluasi kembali perasaan kita. Apakah kita telah berusaha menciptakan rasa nyaman bagi orang-orang yang (katanya) kita sayangi? Apakah kita diam-diam telah membuat orang-orang yang (katanya) kita sayangi merasa hidupnya begitu runyam, susah, memusingkan, dan penuh dengan kekhawatiran?
Diam-diam, banyak orang tua yang hobi menghakimi anak-anaknya sendiri sehingga mereka tidak betah di rumah dan memilih untuk mencoba rokok dan narkoba di pinggir jalan saja. Diam-diam, banyak istri yang gemar menuntut ini-itu pada suaminya sehingga suaminya lebih suka lembur daripada tidur di kasur yang empuk di rumah sendiri. Diam-diam, banyak suami yang suka memberi penilaian begini-begitu pada istrinya sendiri sampai-sampai istrinya berpikir bahwa suaminya lebih baik pergi saja mencari istri yang lain. Diam-diam, banyak orang yang tidak pernah dijadikan tempat curhat oleh temannya lantaran semua orang merasa tidak nyaman dengannya.
1.2 Definisi Cinta secara ilmiah dan menurut Agama
Kita sudah sering mendengar definisi “cinta sejati”. Jumlahnya tak terhitung saking banyaknya. Namun kita tak perlu bingung. Toh kebanyakan definisi itu merupakan hasil pemikiran subyektif dan tidak logis. Supaya tidak terjebak dalam kebingungan, lebih baik kita bersandar pada definisi yang ilmiah, obyektif, dan logis.
Salah satu definisi yang ilmiah, obyektif dan logis itu dikemukakan oleh M Scott Peck dalam The Road Less Travelled. Ia mendefinisikan cinta sebagai “kemauan untuk mengembangkan diri sendiri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual diri sendiri atau perkembangan spiritual orang lain”.
Ungkapan “dengan maksud” pada definisi tersebut saya garisbawahi karena tujuanlah yang terutama membedakan antara cinta dan yang bukan cinta. Dengan demikian, cemburu buta atau pun upaya mengekang sang kekasih (walau dengan alasan demi menjaga keselamatannya) bukanlah cinta sejati.
Dalam pada itu, untuk memelihara perkembangan spiritual orang lain yang kita cintai, kita perlu lebih dulu mengembangkan diri sendiri. Mengapa demikian? M Scott Peck menerangkan:
“Bila kita mencintai seseorang, cinta kita dapat dibuktikan atau diwujudkan hanya dengan cara pengerahan tenaga kita sendiri…. Cinta bukan tanpa usaha. Sebaliknya, cinta itu penuh dengan usaha”.
Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai'an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai'an fa huwa `abduhu). Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :
1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.
Dalam Qur'an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
"nggemesi". Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
"nggemesi". Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.
2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur'an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur'an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham , yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.
3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara,
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung
kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur'an disebut
dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.
4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur'an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.
5. Cinta ra'fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur'an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur'an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).
6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur'an menyebut term ni ketika
mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan
Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)
7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur'an tetapi dari
hadis yang menafsirkan al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
hadis yang menafsirkan al Qur'an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5
dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma'tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as'aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa'ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi
8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang
menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada
pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur'an ketika menyatakan bahwa
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)
1.3 Sejarah asal mulanya ‘Hari Valentin’/Hari Kasih Sayang
ISLAM sebagai ajaran lengkap dan menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan manusia sejagat memiliki panduan ditetapkan Allah bagi menjamin kesejahteraan hidup umatnya di dunia dan akhirat.
Oleh itu, tidak ada sebab mengapa umat Islam perlu meniru atau mengambil budaya asing sebagai contoh ikutan dalam kehidupan kerana Islam sudah lengkap.
Malangnya, akhir-akhir ini generasi muda begitu mudah terpengaruh dan menerima unsur budaya asing yang datang dari Barat dan Timur, yang hakikatnya tidak diperlukan kerana jelas bertentangan dengan Islam.
Rasulullah SAW pernah memberi amaran keras kepada umatnya berkenaan gejala mengikut, meniru atau melakukan budaya asing melalui sabdanya yang bermaksud: “Sesiapa yang melakukan perbuatan menyerupai sesuatu kaum itu, maka dia turut termasuk bersama golongan itu.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ahmad)
Jelas daripada maksud hadis Rasulullah SAW bahawa umat Islam dilarang meniru budaya asing yang bercanggah dengan akidah dan syariat Islam, apatah lagi ia turut menjerumuskan mereka ke lembah kemaksiatan.
Oleh itu, mengapa perlu kita mengamalkannya, sedangkan Islam menggalakkan umatnya kasih-mengasihi sesama sendiri sepanjang waktu dan bukannya menetapkan pada hari tertentu atau berkala seperti Hari Valentine, hari ibu, hari bapa dan sebagainya.
Kasih pada ibu bapa, cinta pada isteri dan sayang pada anak pada hakikatnya terus berlangsung sepanjang hayat dikandung badan. Begitu juga kasih sayang sesama umat Islam sewajibnya utuh dan erat sepanjang masa dan diperkukuhkan tali persaudaraan.
Bahkan jika kita tidak bertegur sapa dengan saudara sesama Islam selama tiga hari berturut-turut, hukumnya sudah pun jatuh haram.
Ternyata amalan atau budaya Islam jauh lebih baik daripada budaya asing yang semakin banyak menghiasi pentas kehidupan umat Islam.
Islam menggalakkan umatnya kasih- mengasihi sesama mereka dengan mengamalkan budaya menyebarkan salam, saling bertukar hadiah, ziarah-menziarahi, berkongsi suka-duka, tumpang bersyukur kesenangan dan bersimpati apabila ditimpa malapetaka.
Salah satu contoh yang akhir-akhir ini menjadi tradisi untuk memperingati makna dari cinta dan kasih sayang.
Pada bulan Februari banyak muda-mudi merayakan Hari Valentin dan terkesan mewajibkan pasangannya untuk memberikan sesuatu pada hari tersebut. Untuk itu coba kita lihat "Sejarah Kisah Kasih 14 Februari" yang pernah ditulis Kompas.
Usai mempersembahkan kambing dan minum anggur, para pendeta berlari berhamburan di jalan-jalan kota. Tak lupa, mereka pun menggenggam potongan-potongan kulit kambing kurban tadi. Mereka juga menyentuh siapa saja yang mereka jumpai. Nah, biasanya, perempuan-perempuan mudalah yang sangat ingin disentuh dengan potongan-potongan kulit kambing seraya berharap beroleh karunia kesuburan berikut bisa melahirkan dengan mudah. "Demi Lupercus!" begitulah kira-kira teriakan mendamba para perempuan untuk anugerah tersebut.
Ya, Lupercus, dewa yang sosoknya digambarkan setengah telanjang berpakaian kulit kambing itu adalah nama yang acap diteriakkan penduduk Roma kuno pada perayaan Lupercalia, tiap 15 Februari, kala itu. Lalu, di jiran Roma, Grekia yang beribu kota di Athena, kesuburan - diawali dengan cinta, tentu saja - hitung-hitungan kalender tengah Januari hingga tengah Februari adalah Bulan Gamelion. Pada bulan itulah segala persembahan diunjukkan terkait dengan pernikahan suci Dewa Zeus dengan Hera.
Lalu apa hubungan perayaan bagi dewa-dewi itu dengan hari kasih sayang yang kini diperingati tanggal 14 Februari? Masih di Roma, cerita tentang cinta dan kasih sayang memang beragam. Namun nama yang paling sering disebut dan dihubungkan dengan perayaan Valentine adalah "Valentinus" yang sejatinya sukar dicari keterhubungannya. Soalnya, nama itu menunjuk pada nama seorang pastor di Roma, nama seorang uskup, dan nama seorang martir di provinsi Romawi Afrika.
Tapi bahwa 14 Februari kemudian ditetapkan sebagai Hari Raya Santo Valentinus, kabarnya, merupakan langkah yang diambil Paus Gelasius I pada 496 sesudah Masehi untuk sedikit banyak mengungguli perayaan Lupercalia, sehari sesudahnya. Selanjutnya, pada abad pertengahan, khususnya, di Inggris dan Prancis, 14 Februari adalah hari yang dipercaya sebagai hari tatkala burung mencari pasangannya untuk kawin.
Sementara, saat ini, Hari Valentine atawa Hari Kasih Sayang yang jatuh pada 14 Februari juga, lebih menonjol tampil dalam perwujudan cinta kasih sepasang lelaki perempuan yang tengah kasmaran bersimbol mulai dari kartu ucapan hingga bunga mawar serta penganan cokelat. Walau, sesungguhnya, cinta kasih tak cuma berhenti pada terminal mabuk asmara.
Maka dari itulah, memaknai Hari Valentine menjadi pilihan amat pribadi bagi khalayak masa kini. Boleh bertukar sapa maupun benda hingga saling menabur salam doa. Bukan untuk dijadikan silang-selisih karena sejatinya, cinta kasih adalah anugerah dari Yang Mahatinggi. (Josephus Primus)
Dalam hal ini saya tidak akan membahas masalah "Halal-Haram" merayakan Hari Valentine. Tetapi sekedar mengingatkan teman2 yang "merayakan hari Valentine" biasanya lupa dengan esensi "Cinta" itu sendiri. Padahal tanpa adanya Hari Valentine, dalam diri manusia akan selalu ada Cinta-Kasih-Sayang.
1.4 Cinta Kasih sayang dan Perasaan Agama
Secara logika maupun religi (agama), manusia yang merasakan cinta – kasih – sayang adalah sesuatu yang lumrah dan sudah seharusnya manusia merasakan hal itu. Jika ada manusia yang tidak pernah merasakan perasaan tersebut, baiknya segera menemui psikiater (ahli jiwa). Cinta – kasih – sayang (CKS) memiliki makna yang sangat luas, karena yang terlibat dalam masalah CKS itu tidak hanya melibatkan orang per orang, tapi satu keluarga, satu RT, satu RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan juga Negara – Benua hingga seluruh Dunia. Bahkan CKS itu bisa melibatkan antara yang nyata dengan yang gaib, bahkan antara yang hidup dengan yang mati.
Yang menjadi permasalahan dalam masalah CKS itu adalah ketika yang terlibat dalam masalah CKS mencapai titik ”mabuk CKS” ?! Sudah banyak contoh di dunia ini yang mencapai mabuk CKS, diantaranya ketika ada orang yang rela membunuh orang lain karena cintanya ditolak; ada orang yang berani bunuh diri ketika cintanya kandas ditengah ”samudera CKS”; bahkan lebih luas lagi kita juga melihat contoh ketika terjadi Perang Dunia I dan II ada beberapa negara yang ”dimabuk CKS” ras / tanah air / politik / kekuasaan, berani menyerang negara lain hingga melibatkan hampir seluruh Benua dan menyebabkan ratusan – ribuan – jutaan orang meninggal.
Lalu bagaimana seharusnya manusia ber-CKS, jika dalam CKS itu ada ”indah”, ”manis” hingga ”hangat” tetapi dalam CKS juga bisa menimbulkan ”rusak”, ”pahit”, hingga ”panas” ?!
Secara logika maupun religi (agama), manusia yang merasakan cinta – kasih – sayang adalah sesuatu yang lumrah dan sudah seharusnya manusia merasakan hal itu. Jika ada manusia yang tidak pernah merasakan perasaan tersebut, baiknya segera menemui psikiater (ahli jiwa). Cinta – kasih – sayang (CKS) memiliki makna yang sangat luas, karena yang terlibat dalam masalah CKS itu tidak hanya melibatkan orang per orang, tapi satu keluarga, satu RT, satu RW, Kelurahan, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan juga Negara – Benua hingga seluruh Dunia. Bahkan CKS itu bisa melibatkan antara yang nyata dengan yang gaib, bahkan antara yang hidup dengan yang mati.
Yang menjadi permasalahan dalam masalah CKS itu adalah ketika yang terlibat dalam masalah CKS mencapai titik ”mabuk CKS” ?! Sudah banyak contoh di dunia ini yang mencapai mabuk CKS, diantaranya ketika ada orang yang rela membunuh orang lain karena cintanya ditolak; ada orang yang berani bunuh diri ketika cintanya kandas ditengah ”samudera CKS”; bahkan lebih luas lagi kita juga melihat contoh ketika terjadi Perang Dunia I dan II ada beberapa negara yang ”dimabuk CKS” ras / tanah air / politik / kekuasaan, berani menyerang negara lain hingga melibatkan hampir seluruh Benua dan menyebabkan ratusan – ribuan – jutaan orang meninggal.
Lalu bagaimana seharusnya manusia ber-CKS, jika dalam CKS itu ada ”indah”, ”manis” hingga ”hangat” tetapi dalam CKS juga bisa menimbulkan ”rusak”, ”pahit”, hingga ”panas” ?!
Itulah yang dinamakan resiko CKS. Manusia harus tahu resiko CKS, ketika menjalani CKS dengan baik dan benar pastinya akan mencapai sisi positifnya CKS. Tetapi ketika manusia menjalani CKS dengan tidak baik dan tidak benar bahkan ”CKS yang terlarang” maka yang didapat adalah sisi negatif dari CKS. Manusia harus menjalani hidup dengan akal, perasaan dan agama (APA). Dan ketiganya tidak bisa pisah-pisah dalam hidup. Tidak bisa dalam hidup manusia hanya menggunakan akal saja tanpa menggunakan perasaan dan agama. Apa jadinya manusia yang hidup hanya menggunakan akalnya saja? Manusia itu pasti akan seperti robot yang hanya berfikir tanpa berperasaan dan manusia itu menjalankan hidup ”otoriter” bahkan manusia itu bisa tidak percaya dengan adanya Tuhan.Dalam hidup manusia juga tidak bisa hanya menggunakan perasaan, jika manusia hidup selalu dengan perasaan maka yang terjadi adalah ”kegilaan” karena manusia itu akan selalu dibayangi dengan ”perasaan-perasaan” yang belum tentu terjadi.
Dan manusia juga tidak bisa hidup hanya berputar dengan masalah agama saja. Manusia itu pasti akan tinggal di Masjid, di Gereja atau di kuil-kuilnya saja dan meninggalkan dunia bahkan tidak mau terlibat dengan masalah dunia. Dari sisi Islam sendiri kita diajarkan untuk balance (seimbang) antara dunia dan akhirat. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin hidupnya oleh Allah SWT mencontohkan kita untuk berusaha dalam hidup di dunia ini.Lalu apa hubungan CKS dengan APA ini ? Hubungan antara CKS dengan APA sangatlah penting. Seperti yang telah diterangkan di atas, manusia tidak bisa hidup tanpa CKS dan manusia juga tidak bisa meninggalkan APA. CKS tidak bisa muncul dan berjalan dengan baik tanpa menggunakan APA karena buah dari APA salah satunya akan menciptakan CKS.Dan untuk menghindari ”mabuk CKS” adalah dengan APA.
Sekarang tinggal manusia itu memilih CKS vs APA atau CKS = APA ?.....
Dan manusia juga tidak bisa hidup hanya berputar dengan masalah agama saja. Manusia itu pasti akan tinggal di Masjid, di Gereja atau di kuil-kuilnya saja dan meninggalkan dunia bahkan tidak mau terlibat dengan masalah dunia. Dari sisi Islam sendiri kita diajarkan untuk balance (seimbang) antara dunia dan akhirat. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin hidupnya oleh Allah SWT mencontohkan kita untuk berusaha dalam hidup di dunia ini.Lalu apa hubungan CKS dengan APA ini ? Hubungan antara CKS dengan APA sangatlah penting. Seperti yang telah diterangkan di atas, manusia tidak bisa hidup tanpa CKS dan manusia juga tidak bisa meninggalkan APA. CKS tidak bisa muncul dan berjalan dengan baik tanpa menggunakan APA karena buah dari APA salah satunya akan menciptakan CKS.Dan untuk menghindari ”mabuk CKS” adalah dengan APA.
Sekarang tinggal manusia itu memilih CKS vs APA atau CKS = APA ?.....
Syair yang mengutip cinta dan kasih sayang
Kasih Sayang Lebih Mulia dari Cinta
Dihadapan orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
Musim dingin tetaplah dingin, hanya suasana yang lebih indah mewarnainya
Dihadapan orang yang kau cintai,
Jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kau hanya merasa senang dan gembira saja
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai,
Matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai,
Engkau hanya tersenyum saja
Dihadapan orang yang kau cintai,
Kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kata-kata hanya keluar dari pikiran saja
Jika orang yang kau cintai menangis,
Engkau pun akan ikut menangis di sisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
Memang hatimu menangis namun kau hanya menghibur saja
Perasaan cinta dimulai dari mata,
Sedangkan rasa suka lebih dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
Cukup dengan menutup telingamu
Tapi bila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai,
Cinta itu berubah menjadi tetesan air mata
Dan terus bersemayam di hatimu dalam waktu yang tak singkat
Tetapi selain rasa suka dan cinta,
Ada perasaan yang jauh lebih dalam,
Yaitu rasa sayang.
Sayang yang tidak hilang secepat cinta pergi,
Sayang yang tidak mudah berubah,
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban
Untuk orang yang kau sayangi
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kau sayangi
Cinta ingin memiliki, tetapi sayang hanya ingin melihat
Orang yang disayanginya bahagia…walaupun harus kehilangan
Dihadapan orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
Musim dingin tetaplah dingin, hanya suasana yang lebih indah mewarnainya
Dihadapan orang yang kau cintai,
Jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kau hanya merasa senang dan gembira saja
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau cintai,
Matamu berkaca-kaca
Apabila engkau melihat kepada mata orang yang kau sukai,
Engkau hanya tersenyum saja
Dihadapan orang yang kau cintai,
Kata-kata yang keluar berasal dari perasaan yang terdalam
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kata-kata hanya keluar dari pikiran saja
Jika orang yang kau cintai menangis,
Engkau pun akan ikut menangis di sisinya
Jika orang yang kau sukai menangis,
Memang hatimu menangis namun kau hanya menghibur saja
Perasaan cinta dimulai dari mata,
Sedangkan rasa suka lebih dimulai dari telinga
Jadi jika kau mau berhenti menyukai seseorang,
Cukup dengan menutup telingamu
Tapi bila kau mencoba menutup matamu dari orang yang kau cintai,
Cinta itu berubah menjadi tetesan air mata
Dan terus bersemayam di hatimu dalam waktu yang tak singkat
Tetapi selain rasa suka dan cinta,
Ada perasaan yang jauh lebih dalam,
Yaitu rasa sayang.
Sayang yang tidak hilang secepat cinta pergi,
Sayang yang tidak mudah berubah,
Perasaan yang dapat membuatmu berkorban
Untuk orang yang kau sayangi
Mau menderita demi kebahagiaan orang yang kau sayangi
Cinta ingin memiliki, tetapi sayang hanya ingin melihat
Orang yang disayanginya bahagia…walaupun harus kehilangan
Arti cinta adalah prasaan sayang yg dr hati melebihi sgalanya sedangkan sayang brarti luas artinya kata sayang dpt d artikan dalam banyak hal,misalnya sayng pada benda,hewan dan tmn.so,cinta dan kasih sayang berbeda tapi cinta dan kasih sayang slalu berdampingan karena dngn cinta kt dapat slng menyayangi dan dngn sayang akan tumbuh rasa cinta
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Cinta adalah saling membutuhkan... cinta ibarat sepasang kaki, yang melangkah beriringan... cinta ibarat siang dan malam yang saling mengisi hari...
Kadang, butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa kita mencintai seseorang... kadang, kita terlambat untuk menyadari bahwa bahwa kita telah mencintai seseorang, sementara orang itu telah pergi meninggalkan kita...
Jadi, temanku... selami perasaan terdalammu sebelum engkau berucap cinta... atau renungkanlah dalam-dalam sebelum meninggalkan seseorang yang mungkin dia adalah cinta sejatimu...
Yang engkau perlukan temanku, adalah menutup semua indra dan rasakan dalam hati...
Bila engkau merasa sepi kala ia jauh... mungkin itu cinta...
Bila engkau merasa sepi walau engkau tlah mencampakkannya... ungkin itu cinta...
Tapi bila engkau merasa harimu lebih indah walau ia telah memberimu segala keruwetan dan masalah... pastikan itu cinta perasaan-agama
Kadang, butuh waktu bertahun-tahun untuk menyadari bahwa kita mencintai seseorang... kadang, kita terlambat untuk menyadari bahwa bahwa kita telah mencintai seseorang, sementara orang itu telah pergi meninggalkan kita...
Jadi, temanku... selami perasaan terdalammu sebelum engkau berucap cinta... atau renungkanlah dalam-dalam sebelum meninggalkan seseorang yang mungkin dia adalah cinta sejatimu...
Yang engkau perlukan temanku, adalah menutup semua indra dan rasakan dalam hati...
Bila engkau merasa sepi kala ia jauh... mungkin itu cinta...
Bila engkau merasa sepi walau engkau tlah mencampakkannya... ungkin itu cinta...
Tapi bila engkau merasa harimu lebih indah walau ia telah memberimu segala keruwetan dan masalah... pastikan itu cinta perasaan-agama
Rasulullah SAW kerap menziarahi orang sakit dan tidak ketinggalan mengunjungi orang meninggal dunia biarpun berlainan kaum atau agama. Malah, perbezaan agama, kaum atau keturunan tidak menyebabkan permusuhan dan pertelagahan kaum.
Sebaliknya, mereka saling bantu membantu, bekerjasama dan berganding bahu untuk membangunkan Madinah ketika itu. Perbezaan akidah atau agama bukan penghalang ke arah mewujudkan hubungan kemanusiaan yang harmoni dan akrab.
Dalam erti kata lain, berkasih sayang menurut perspektif Islam amat luas dan tidak terhad kepada golongan tertentu.
Dalam konteks perayaan pula, perlu disedari bahawa perayaan adalah sebahagian daripada ketentuan sesebuah agama yang ditetapkan Allah seperti firman-Nya bermaksud: “Bagi tiap-tiap umat yang ada di antara kamu, Kami jadikan (tetapkan) suatu syariat dan jalan agama (yang wajib diikuti oleh masing-masing).” (Surah al-Ma’idah, ayat 48)
Jelas daripada maksud ayat, umat Islam mempunyai perayaan tersendiri yang ditentukan Allah iaitu Aidilfitri dan Aidiladha.
Oleh yang demikian, demi memelihara akidah dan amalan umat Islam daripada perkara tidak diredai Allah, maka mereka dilarang meraikan dan menyambut perayaan agama kaum lain supaya tidak terperangkap dalam unsur syubhah yang terkandung dalam upacara perayaan mereka.
Walaupun Rasulullah SAW, sahabat dan tabiin bergaul bersama orang Musyrikin, Nasrani, Yahudi dan kaum lain, mereka tidak pernah meraikan, apatah lagi menyambut sebarang hari perayaan bukan Islam.
Tidak cukup dengan dua hari raya besar itu, umat Islam dianjurkan menyambut dan meraikan hari kebesaran Islam seperti peristiwa Hijrah, Maulidur Rasul, Hari Asyura, Nuzul al-Quran, peristiwa Badar, Israk dan Mikraj dan himpunan peristiwa bersejarah yang tercatat dalam lipatan sejarah Islam.
Umat Islam sekarang sewajarnya menyambut dan meraikan hari kebesaran Islam untuk diambil segala pengajaran dan iktibar dalam usaha mereka memartabatkan kembali maruah dan kedudukan sebagai generasi terbaik dan umat teladan yang memantulkan nilai kebaikan kepada umat sejagat.
Islam sudah menyediakan cara hidup cukup lengkap dan sewajarnya mereka berpegang teguh pada ajaran Islam bagi mencapai kejayaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar